ada saat dimana,
saya ingin kau tak bisa pejamkan mata
di malam hari; dengan pikiran penuh sesak memenuhi
hingga pagi mencari. Supaya kau sadar,
malam boleh angkuh, sel-sel syaraf boleh egois,
hati boleh mengemis, tak hanya dirimu yang bengis
ada saat dimana,
saya ingin kau gelisah sepanjang hari
mengutuk langit, matahari, dan peluh di dahi;
supaya kau tau, teriknya siang tak seberapa
dengan kata-kata tajam yang terlontar
dari bibirmu pagi tadi
biar saja kau merasakan
pedihnya kesalahan
walau hanya seharian
biar saja, biar
biar kau sadar
berapa malam orang lain habiskan
atas apa yang kau lakukan
sampai hilang harapan.
malam yang terlalu larut dan pagi
yang tergesa-gesa,
lampu jalan mulai dimatikan atau bahkan
padam perlahan,
jalanan masih saja panjang
biasanya ramai ribuan orang
kini sepi menggarang.
ribuan meter saya kelilingi
awalnya seorang diri, hingga teman menemani
berbagi peluh dan berbagi jenuh
hingga renyah tawa saling menghiasi
segerombolan insan patah hati.
permainan kartu yang dimainkan puluhan kali
belasan gelas teh dan kopi terus menghidupi
malam tak lagi panjang,
malam tak lagi gelisah,
malam tak lagi kelam,
kantung mata dibiarkan membesar,
mata merah tak lagi dikeluhkan
guratan bahagia kian tergambar walau kami
sedang patah hati.
yang tergesa-gesa,
lampu jalan mulai dimatikan atau bahkan
padam perlahan,
jalanan masih saja panjang
biasanya ramai ribuan orang
kini sepi menggarang.
ribuan meter saya kelilingi
awalnya seorang diri, hingga teman menemani
berbagi peluh dan berbagi jenuh
hingga renyah tawa saling menghiasi
segerombolan insan patah hati.
permainan kartu yang dimainkan puluhan kali
belasan gelas teh dan kopi terus menghidupi
malam tak lagi panjang,
malam tak lagi gelisah,
malam tak lagi kelam,
kantung mata dibiarkan membesar,
mata merah tak lagi dikeluhkan
guratan bahagia kian tergambar walau kami
sedang patah hati.
betapa bodohnya,
entah sudah keberapa kalinya
lagi-lagi
hal itu terjadi.
sudah ku katakan;
jangan pikirkan, jangan hiraukan
tetapi tetap saja terenyuh
oleh tajamnya pandang mata
dan teduhnya sapa.
walau saat tersadar nanti
semua yang ku pikirkan tidaklah nyata
ku harap hatiku tetap hangat.
entah sudah keberapa kalinya
lagi-lagi
hal itu terjadi.
sudah ku katakan;
jangan pikirkan, jangan hiraukan
tetapi tetap saja terenyuh
oleh tajamnya pandang mata
dan teduhnya sapa.
walau saat tersadar nanti
semua yang ku pikirkan tidaklah nyata
ku harap hatiku tetap hangat.
dibutakan apa kabar
dan eratnya jabat tangan
iman yang kuat bukanlah perkara
jantung beredebar ialah sengsara.
umpatan dan cacian tak sanggup diucapkan,
termakan bisu dan larut dalam jumpa
cinta lama yang belum tuntas
datang menyapa penuh suka
namun lupa, sudah ada yang punya.
dan eratnya jabat tangan
iman yang kuat bukanlah perkara
jantung beredebar ialah sengsara.
umpatan dan cacian tak sanggup diucapkan,
termakan bisu dan larut dalam jumpa
cinta lama yang belum tuntas
datang menyapa penuh suka
namun lupa, sudah ada yang punya.
terik dan debu adalah kawan setia
temanku, basah dan berpeluh
baju usang dengan kaki telanjang
menapak sekitar berjalan tak gentar
menjalin keakraban dengan jalan.
tali temali disimpulkan erat
sebuah rantai yang mengekang tak dapat terhindar
demi asupan dan lega dahaga mati-matian
rela kau utamakan ketimbang berceloteh ria
bersama teman dan saudara.
temanku, kau pahlawan
disaat semua pergi menepi dan bersandar
kau maju dan berdiri tak tergantikan
temanku, basah dan berpeluh
baju usang dengan kaki telanjang
menapak sekitar berjalan tak gentar
menjalin keakraban dengan jalan.
tali temali disimpulkan erat
sebuah rantai yang mengekang tak dapat terhindar
demi asupan dan lega dahaga mati-matian
rela kau utamakan ketimbang berceloteh ria
bersama teman dan saudara.
temanku, kau pahlawan
disaat semua pergi menepi dan bersandar
kau maju dan berdiri tak tergantikan
hujan telah pergi, namun petir terus menyambar
menggetarkan roma, membidik tepat di dada
setrumnya mengalir dalam darah
menggerogoti seluruh tubuh
sampai terasa mual dan sesak.
semakin melawan rasa sakitnya semakin terasa
merasuk lebih dalam dan menyakitkan.
saya hiraukan teriakan meronta
saya biarkan tersiksa hingga mati rasa.
saya sudah lelah,
saya menyerah.
menggetarkan roma, membidik tepat di dada
setrumnya mengalir dalam darah
menggerogoti seluruh tubuh
sampai terasa mual dan sesak.
semakin melawan rasa sakitnya semakin terasa
merasuk lebih dalam dan menyakitkan.
saya hiraukan teriakan meronta
saya biarkan tersiksa hingga mati rasa.
saya sudah lelah,
saya menyerah.














