kabut tebal buramkan pandang
mata berdebu tak karuan
hilang akal serta kelakuan
jalan yang saya tempuh amatlah
terjal.
retak,
bergelombang,
menyeramkan.
saya hanya rindu pulang
tidak terus berada di perjalanan.
saya
rindu
kehangatan.
bukan
dinginnya
angin
malam.
Rona merah yang hiasi wajahmu,
kini tenggelam
di dasar samudra.
Cokelat iris matamu
mulai menghitam
dan dangkal
kini tak terbaca.
Saya ragu
akan rindu
yang memebelenggu.
saya berdiri di tengah keramaian
ada seorang di ujung sana
menarik perhatian saya.
rahangnya kuat,
sorot mata tajam,
tubuh berdiri tegap.
ia melambaikan tangan
padaku?
tidak mungkin. ia tak mengenalku.
tapi hanya ada saya
di tempat ini
seorang diri.
ia berjalan menuju arahku.
"pakai jaket saya. kamu kedinginan."
saya kaku, beku, membisu.
jantung saya kembali berdetak.
saya
masih
hidup.
mimpi indah; batinku tersenyum.
sungguh.
terasa nyata dan
memabukkan.
ada seorang di ujung sana
menarik perhatian saya.
rahangnya kuat,
sorot mata tajam,
tubuh berdiri tegap.
ia melambaikan tangan
padaku?
tidak mungkin. ia tak mengenalku.
tapi hanya ada saya
di tempat ini
seorang diri.
ia berjalan menuju arahku.
"pakai jaket saya. kamu kedinginan."
saya kaku, beku, membisu.
jantung saya kembali berdetak.
saya
masih
hidup.
mimpi indah; batinku tersenyum.
sungguh.
terasa nyata dan
memabukkan.
Saya dan senja bercengkrama
sembari menunggu jingga
di batas cakrawala.
Saya dan senja sama-sama iri
pada bayangan sepasang kekasih
yang meniti kasih.
Saya dan senja sama-sama diam
menunggu sang warna datang
hiasi hari lengkapi hati.
menunggu sang warna datang
hiasi hari lengkapi hati.
Bangku panjang saksinya sejak
tatap mata elangmu bertemu milikku.
Pun dengan alang-alang, saksi bisu saya
bersentuhan dengan kulit hangatmu.
Taman menjadi saksi,
seharian saya habiskan waktu. Walau
tak sepenuhnya saya denganmu.
Napas memberat
sesak mulai merasuki,
pikiran tentangmu
terus menyelubungi.
Detak nadi terus bertambah
intensitasnya. Kupu-kupu dalam perut
berterbangan pamerkan sayap
berterbangan pamerkan sayap
indahnya.Imajinasi saya
berubah liar hingga
berubah liar hingga
Senyum tak kuasa saya sunggingkan.
Saya pejamkan mata sejenak
niat ingin menenagkan hati
justru kini gusar sendiri.
Kamu
datang
lagi.
Saya
jatuh
lagi.
Berhenti,
Jangan lagi,
Jangan teruskan;
saya di peringatkan, tapi
saya di peringatkan, tapi
saya tak mau dengar.
Rambu-rambumu sudah saya pahami
Walau kamu bukan polisi, namun saya akan patuhi
Saya tidak akan putar arah,
Kabur,
Ataupun bersembunyi.
Saya akan tetap berjalan
Setelah itu berhenti, saat sampai tujuan
Tak perlu kamu hiraukan saya
Jalani saja tugasmu, saya akan jalankan tugas saya
Saya bukan malaikat,
Maka jangan mendekat.
Jangan menoleh,
Nanti saya meleleh.
504 jam yang lalu, saya berhasil mengenalmu.
Sebatas nama,
Hingga sekarang tiada
Perkembangan.
Saat berjumpa sapa
Tak kau layangkan
Garis lengkungan di rupa
Tak berhiaskan
172 jam yang lalu, saya hilang
Akal, perasaan dan perbuatan
Tak ada yang sejalan
Tidak tenang.
68 jam yang lalu, kamu hilang dari iris mata saya
Tiada warna
Hanya cokelat
Seperti yang kau punya;
Cokelat tua berseri-seri.
Ya, semoga
Cokelat tak berubah warna;
Menjadi biru, jingga, ataupun abu-abu.
Saya akan sedih
Milik kita tak lagi serupa
Kamu berwarna,
Saya tak bernyawa.
16 jam yang lalu, saya dan kamu beradu
Tatap kaca halangi ruang
Saya melihat kamu
Tidak, ada rintang
Membentang gambarkan semu
Kamu hanya lewat,
Saya perlahan sekarat.
Pluviophile
(n) a lover of rain; someone who finds joy and peace of mind during rainy days.
impian,
kenangan,
hujan.
biru,
melagu,
rindu.
Senar Senja - Dialog Hujan
Sore - Musim 'Ujan
Banda Neira - Hujan di Mimpi
Efek Rumah Kaca - Desember
Float - Pulang
Fourtwnty - Aku Tenang
Efek Rumah Kaca - Hujan Jangan Marah
Frau - Mesin Penenun Hujan
Alex Turner - Glass In The Park
Paramore - When It Rains
Adhitia Sofyan - Blue Sky Collapse
Payung Teduh - Resah
-r.d
satu detik,
saya melewatkannya.
dua detik,
saya tersadar.
tiga detik,
saya tergugah.
alam bawah sadar saya dibangunkan
oleh ketukan pelan.
saya dihipnotis.
tergambarkan dalam alamku; kau
menari, bersendandung, dan menatap langit.
de javu!
saya pernah melihatmu seperti itu.
tapi, ingatan saya lemah,
saya pelupa.
saya tersentak, ling-lung, dan merasa asing.
tepukan ringan dipundak membangunkan alam sadar saya.
saya tak lagi dikuasai olehmu dalam pikiranku.
saya telah sadar sepenuhnya.
tersadar, bahwa dirimu hanyalah angan,
tersadar, bahwa dirimu hanyalah buaian,
tersadar, bahwa dirimu hanyalah seseorang
yang saya rela habiskan tiap detiknya untuk mengamatimu dari kejauhan.
-r.d
Day 5 (#30DaysOfLiterature)
akhirnya dinding hati saya merembes
meninggalkan bercak dan noda
juga mulai sedikit terkelupas.
untung saja tidak roboh,
bahaya!
tandanya saya harus menambah lagi lapisannya
supaya tidak semakin parah.
tapi, tak jadi,
saya urungkan niatan itu.
saya tak mau terus menjadi kaku dan tersesat.
sudah cukup saya bersembunyi dan mengurung diri.
tak apa biarkan saja dindingku rusak,
karena itu semua adalah ulahmu.
saya tidak marah,
tidak pula menyimpan dendam.
terimakasih;
saya ucapkan setulus hati.
saya akan lega, kalau kau robohkan dinding
dengan kasih dan ketulusan.
ketimbang kau robohkan dengan keserakahan.
jangan marah padaku bila esok kau kembali dinding itu sudah lebih
kokoh dan tak akan mudah roboh.
jangan tanya lagi,
itu semua juga ulahmu.
-r.d
Day 4 (#30DaysOfLiterature)
pukul tiga sore,
saya di rumah.
setelah seharian pergi, bersamamu.
tidak hanya berdua,
tapi ramai-ramai.
kamu bersama teman-temanmu,
saya dengan teman-temanku.
dari jarak lima meter, saya sanggup
melihat senyuman itu terukir indah di wajahmu,
juga angin yang menerpa rambut gelapmu.
kamu seperti ksatria dalam novel fiksi kegemaran saya.
bedanya;
kamu nyata mampu saya pandangi,
sedangkan ksatria bersarang dalam imajinasi.
kamu menang,
ksatria kalah.
karena tawamu sanggup enyahkan lelah,
candamu sanggup hilangkan gundah,
dan senyummu sanggup bungkam amarah.
kamu menang,
saya kalah.
- r.d
Day 3 (#30DaysOfLiterature)
setelah saya menatap matamu, ada rasa
aneh yang menjungkir balikkan tingkah serta akal.
setelah saya bersitatap denganmu, ada jiwa
yang meronta dan tercabik-cabik.
tidak, kau tidak menyakiti saya
tapi senyum-mu.
lututku lemas,
intensitas denyut nadiku bertambah cepat,
napas tidak teratur.
apa saya sakit?
sakit cinta;
kata orang-orang.
kata orang-orang.
-r.d
Day 2 (#30DaysOfLiterature)
10 Desember 2016
sore ini awan serakah
menutup langit yang cerah
dengan warnanya yang pekat
tertutup rapat-rapat
sore ini kau juga serakah
memenuhi pikiran tanpa celah
akalku tak tentu arah
dirimu hanya terperangah
-r.d
Day 1 (#30DaysOfLiterature)
menutup langit yang cerah
dengan warnanya yang pekat
tertutup rapat-rapat
sore ini kau juga serakah
memenuhi pikiran tanpa celah
akalku tak tentu arah
dirimu hanya terperangah
-r.d
Day 1 (#30DaysOfLiterature)















